Ketika "Religius" Menjadi Label: Memahami Keberagamaan dalam Kerangka Islam

Ketika tokoh agama berbuat salah, publik cepat menyalahkan Islam. Tulisan ini menunjukkan bahwa masalahnya ada pada label religius yang terlalu sempit, dengan kerangka takwa, hadis Jibril, Minhaj Hamid Fahmy Zarkasyi, dan teori religiusitas Glock dan Stark.

Di Indonesia, kita memakai kata "religius" dengan cara yang sederhana. Seseorang kita sebut religius karena rajin salat, sering berceramah, memakai simbol keagamaan, atau memimpin pesantren.

Masalah muncul ketika orang berlabel religius itu berbuat salah. Publik cepat menarik kesimpulan. Mula-mula, "ternyata orang religius juga bisa begitu." Lalu, "berarti agama tidak menjamin orang menjadi baik." Pada titik tertentu, kritik terhadap satu orang berubah menjadi kritik terhadap Islam.

Orang Indonesia menaruh harapan tinggi pada orang beragama. Survei Pew Research Center yang terbit Maret 2026 mencatat 99 persen responden Indonesia menganggap percaya kepada Tuhan perlu agar seseorang bermoral. Angka ini tertinggi di antara negara yang Pew survei. Dengan harapan setinggi itu, publik mudah kecewa ketika seorang tokoh agama jatuh.

Menurut saya, kita memakai definisi religius yang terlalu sempit. Pertanyaan "apakah orang ini religius?" perlu kita ganti dengan pertanyaan lain: apa yang Islam maksud dengan keberagamaan, dan bagaimana kita mengenali kualitasnya?

Religius Adalah Kategori Sosial

Dalam percakapan sehari-hari, kata religius mencakup banyak hal: rajin beribadah, aktif di masjid, menjadi ustaz, tinggal di pesantren, atau sering berbicara tentang agama. Semua itu bisa menjadi petunjuk. Tetapi satu petunjuk saja belum cukup untuk menilai kualitas keislaman seseorang.

Sosiologi agama sudah lama mengakui hal ini. Charles Glock dan Rodney Stark dalam Religion and Society in Tension (1965) membagi religiusitas ke dalam lima dimensi. Menurut mereka, kelima dimensi ini bisa berjalan sendiri-sendiri. Seseorang bisa tinggi di satu dimensi dan rendah di dimensi lain.

Dimensi Glock dan StarkYang diukurPadanan kasar dalam istilah Islam
RitualKeikutsertaan dalam ibadahSyariah dan ibadah
IdeologisKeyakinan terhadap ajaran pokokAkidah
EksperiensialPengalaman batin keagamaanIhsan
IntelektualPengetahuan tentang ajaranIlmu
KonsekuensialPengaruh agama pada perilaku sehari-hariAkhlak dan amal saleh

Kolom ketiga saya susun sebagai padanan kasar untuk memudahkan pembaca. Glock dan Stark tidak merancang kerangka ini untuk Islam.

Psikolog Gordon Allport dan J. Michael Ross (1967) menambahkan pembedaan lain. Mereka membedakan orientasi keberagamaan ekstrinsik dan intrinsik. Menurut rumusan mereka, orang berorientasi ekstrinsik memakai agamanya, sedangkan orang berorientasi intrinsik menghayati agamanya. Dari luar, keduanya bisa tampak sama religiusnya.

Ketika kita menyebut seseorang religius, kita menilai ritual dan simbol yang tampak. Dimensi lainnya luput dari pengamatan kita.

Ukuran Al-Qur'an: Takwa

Al-Qur'an memberi ukuran kemuliaan yang tegas:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Allah tidak menjadikan status sosial, suku, atau jabatan sebagai ukuran. Perhatikan penutup ayatnya. Allah Yang Maha Mengetahui yang menilai takwa, dan manusia punya batas untuk menilainya.

QS. Al-Anfal [8]: 29 mengaitkan takwa dengan cara berpikir, lewat konsep furqan, yaitu kemampuan membedakan yang benar dari yang batil:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan kepadamu."

QS. Al-Baqarah [2]: 177 menegaskan bahwa kebajikan (al-birr) tidak berhenti pada arah kiblat. Ayat ini menyebut iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, dan para nabi. Ayat yang sama menyebut memberikan harta kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, dan musafir, lalu mendirikan salat, menunaikan zakat, menepati janji, dan bersabar dalam kesulitan. Dalam satu ayat, Al-Qur'an menyatukan akidah, ibadah, kepedulian sosial, dan akhlak.

Islam, Iman, dan Ihsan: Keberagamaan yang Bertingkat

Hadis Jibril (HR. Muslim no. 8) memperkenalkan tiga tingkatan agama: Islam, iman, dan ihsan. Islam mencakup syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Iman mencakup keyakinan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir. Ihsan berarti beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu. Di akhir hadis, Nabi menyebut ketiganya sebagai "agama kalian".

Hamid Fahmy Zarkasyi mengembangkan gagasan ini dalam Minhaj: Berislam dari Ritual hingga Intelektual (INSISTS, 2020). Ia menyusun lima tingkat keberislaman:

TingkatInti
Ritual (syariah)Menjalankan rukun Islam dan ibadah
Spiritual (akidah)Menjaga keimanan
TakwaMenjaga kesadaran kepada Allah
IhsanMewujudkan amal Islam dalam tindakan sosial
IntelektualBerpikir secara Islami berdasarkan worldview Islam

Dalam buku itu Zarkasyi menulis, "Iman tanpa amal tidak sempurna dan amal tanpa iman bernilai kosong." Kerangka ini mengoreksi cara kita memakai kata religius. Seseorang mungkin sudah kuat di tingkat ritual, tetapi keberislamannya belum selesai di sana.

Islam sebagai Worldview

Tingkat kelima dalam Minhaj membawa kita ke konsep worldview. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebut worldview Islam sebagai ru'yat al-Islam li al-wujud, yaitu visi Islam tentang realitas dan kebenaran. Zarkasyi dalam jurnal Islamia (2005) menempatkan worldview sebagai asas epistemologi Islam.

Konsekuensinya luas. Selain salat, puasa, dan halal-haram, Islam menjawab pertanyaan tentang hakikat manusia, tujuan hidup, sumber ilmu, dan ukuran benar-salah. Al-Qur'an memerintahkan orang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208.

Dalam kerangka ini, pertanyaan yang lebih penting tentang seseorang adalah: sejauh mana agama membentuk cara ia memandang dunia? Seberapa sering ia berbicara tentang agama menjadi pertanyaan kedua.

Dengan kerangka ini, kita bisa menguji kalimat populer "yang penting akhlaknya." Akhlak penting. Tetapi dari mana kita tahu sebuah akhlak itu baik? Jika jawabannya Islam, kita kembali ke akidah dan sumber ilmu Islam. Kerangka Minhaj menunjukkan bahwa akhlak dan amal sosial terhubung dengan tingkat-tingkat lain.

Spesialisasi Boleh, Fragmentasi Jangan

Banyak ustaz menekuni bidang tertentu. Ada yang mengajar fikih, tahsin, akhlak, sejarah, atau ekonomi syariah. Semua itu sah, dan tradisi keilmuan Islam mengenal banyak disiplin.

Masalah muncul ketika publik menganggap satu bagian sebagai keseluruhan. Penceramah yang bertahun-tahun membahas akhlak bisa membuat pendengarnya mengira Islam terutama agama moral. Ahli fikih bisa membuat Islam tampak sebagai daftar halal dan haram. Pendakwah tasawuf bisa membuatnya tampak sebagai pengalaman batin semata. Setiap bagian itu benar, dan pendengar perlu menempatkannya sebagai bagian.

Al-Attas dalam Islam and Secularism (1978) menjelaskan bahwa ilmu terikat pada pandangan tentang realitas. Seorang dokter tidak harus menjadi ahli fikih, dan ahli ekonomi tidak harus menjadi ahli tafsir. Namun setiap Muslim memerlukan kerangka worldview Islam agar keahliannya punya tempat dalam bangunan Islam secara utuh.

Manusia Menilai yang Tampak, Allah Menilai Hati

Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim no. 2564)

Hadis ini menempatkan penampilan di luar ukuran yang Allah pakai. Di sisi lain, Islam membatasi manusia dalam menilai hati orang lain. Ketika Usamah bin Zaid membunuh seseorang yang sudah mengucapkan syahadat dan beralasan orang itu hanya berpura-pura, Nabi bertanya, "Apakah engkau sudah membelah dadanya?" (HR. Muslim no. 96).

Umar bin Khattab merumuskan sikap praktisnya. Pada masa Rasulullah, wahyu bisa menyingkap keadaan seseorang. Setelah wahyu terputus, menurut Umar, kaum Muslim menilai orang dari amal yang tampak (HR. Bukhari no. 2641).

Dari sini kita bisa membedakan dua kalimat. "Dia orang religius" adalah penilaian sosial atas hal yang tampak. "Dia orang bertakwa" menyentuh kualitas yang pada akhirnya hanya Allah ketahui. Kedua kalimat ini tidak sama.

Ketika Tokoh Agama Berbuat Salah

Islam tidak pernah mengajarkan bahwa orang yang pandai agama otomatis terbebas dari dosa. Nabi bahkan memberi peringatan keras. Dalam hadis riwayat Muslim no. 1905, Nabi menyebut tiga orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat. Salah satunya orang yang belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an. Ia melakukan semua itu agar orang menyebutnya alim dan qari. Allah memasukkannya ke neraka karena niatnya.

Al-Qur'an menegur orang yang ucapannya tidak sejalan dengan perbuatannya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff [61]: 2 dan 3)

Dua dalil ini menunjukkan bahwa Islam sudah memperhitungkan kemungkinan tokoh agama jatuh. Kejatuhan seorang ustaz tidak membantah Islam. Kita bisa memakai ajaran Islam sebagai ukuran untuk menilai kesalahannya.

Karena itu, kita perlu memisahkan tiga hal. Pertama, individu: apakah orang itu bersalah? Jika ya, ia menanggung kesalahannya. Kedua, institusi: apakah ada sistem yang membiarkan kesalahan itu terjadi? Jika ada, institusinya perlu kita evaluasi. Ketiga, ajaran: apakah Islam memerintahkan perbuatan itu? Pertanyaan ketiga ini berbeda dari dua pertanyaan pertama.

Kita menerapkan logika yang sama di bidang lain. Ketika seorang dokter melakukan malpraktik, kita tidak menyimpulkan bahwa ilmu kedokteran mengajarkan malpraktik. Ketika seorang hakim menerima suap, kita tidak menyimpulkan bahwa hukum mengajarkan korupsi.

Ada satu jebakan lain yang perlu kita hindari. Filsuf Antony Flew dalam Thinking About Thinking (1975) menamai sebuah kekeliruan logika "No True Scotsman". Orang yang terjebak di sini menyelamatkan klaimnya dengan mengubah definisi: "Kalau dia berbuat jahat, berarti dia bukan orang Skotlandia sejati." Dalam konteks kita, bentuknya berupa kalimat "dia sebenarnya tidak religius." Kita tidak perlu memakai jalan pintas ini. Kita cukup menguji kesesuaian perbuatannya dengan ajaran Islam.

Orang Religius dalam Kerangka Islam

Jika kita masih ingin memakai kata religius, kita perlu memakainya dengan hati-hati. Dalam kerangka Islam, orang yang religius adalah orang yang keislamannya membentuk seluruh orientasi hidupnya. Ia beriman dan berusaha bertakwa. Ia menjalankan syariah dan memperbaiki akhlaknya. Ia menuntut ilmu dan memahami Islam sebagai worldview.

Semua itu berjalan sebagai proses seumur hidup. Rasulullah bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap anak Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertaubat." (HR. At-Tirmidzi no. 2499 dan Ibnu Majah no. 4251)

Orang saleh pun bisa berdosa. Perbedaannya terletak pada responsnya: ia membenarkan kesalahannya, atau ia kembali kepada kebenaran.

Penutup

Ketika kata religius menjadi label sosial, kita berisiko menjadikan penampilan, profesi, dan jabatan sebagai pengganti keberagamaan yang jauh lebih luas. Islam meminta manusia beriman, bertakwa, beramal saleh, berilmu, dan hidup dalam kerangka pandangan hidup Islam.

Ketika seorang tokoh agama berbuat salah, pertanyaan "bagaimana mungkin orang religius melakukan ini?" kurang tepat. Pertanyaan yang lebih tepat: apa yang ia lakukan, dan apakah perbuatan itu sesuai dengan Islam?

Kita cukup membedakan ajaran dari penganutnya, dan prinsip dari praktik. Manusia bisa gagal menjalankan Islam, dan pelakunya menanggung kegagalan itu.

Saat menilai seseorang, kita bisa berhenti bertanya "seberapa religius ia terlihat?" dan mulai bertanya "seberapa jauh Islam telah membentuk dirinya?"

Daftar Pustaka