Ketika Dakwah Terlalu Sempit: Antara Hiburan, Spesialisasi, dan Kemiskinan yang Terlewat
Dakwah populer hari ini melimpah tapi sering terasa sempit: terlalu fokus pada satu tema, terlalu jauh dari kemiskinan yang nyata. Tulisan ini menelusuri Al-Ma'un, Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo, dan hadis ulama pewaris nabi untuk menawarkan ukuran dakwah yang lebih utuh.
Saya sering merasa terganggu setelah mendengarkan sebagian dakwah populer. Isinya tidak salah. Tapi ada sesuatu yang terasa hilang setelah ceramah selesai. Saya tertawa, saya manggut-manggut, lalu saya pulang. Pertanyaannya sederhana: setelah satu jam itu, saya lebih dekat kepada Allah, atau cuma terhibur?
Pertanyaan ini penting karena dakwah bukan produksi konten. Dakwah seharusnya mengubah cara orang menjalani hidupnya. Menurut saya, ada dua masalah yang membuat sebagian dakwah gagal mencapai itu: dakwah yang terlalu sempit temanya, dan dakwah yang terlalu jauh dari masalah nyata orang miskin.
Ketika Spesialisasi Berubah Jadi Representasi Tunggal
Spesialisasi itu perlu. Tidak ada ulama yang menguasai fikih, hadis, tafsir, dan sejarah dengan kedalaman yang sama. Masalahnya muncul ketika seorang jamaah, selama bertahun-tahun, hanya mendengar Islam dari satu sumber dengan satu tema.
Katakanlah seorang penceramah selalu bicara akhlak: sabar, memaafkan, jangan menyakiti orang. Semua itu benar. Tapi jika itu satu-satunya pintu masuk seorang jamaah ke Islam, ia bisa menyimpulkan Islam terutama soal jadi orang baik. Padahal Islam juga punya konsep tentang hukum, ekonomi, keadilan, kekuasaan, dan hubungan manusia dengan alam. Bagian yang benar, kalau berdiri sendirian terus-menerus, bisa menggantikan keseluruhan di kepala orang yang mendengarnya.
Saya kira ini bukan salah pendengarnya. Ini soal siapa yang menyusun menu, dan menu itu jarang lengkap kalau sumbernya cuma satu.
Tahu Banyak Belum Berarti Punya Peta
Seseorang bisa rutin mengikuti kajian selama sepuluh tahun, hafal banyak hadis, tahu banyak kisah, tapi tidak pernah diajak menghubungkan satu tema dengan tema lain. Bagaimana akidah membentuk akhlak? Bagaimana ibadah berhubungan dengan keadilan sosial? Bagaimana Islam memandang orang yang dizalimi?
Tanpa sambungan semacam ini, pengetahuan agama bisa menumpuk tanpa membentuk pandangan hidup. Ada beda antara belajar tema-tema Islam dan belajar Islam sebagai satu sistem makna yang menyambungkan hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya, dengan sesama, dan dengan alam.
Humor Boleh, Tapi Jangan Jadi Tujuan
Saya tidak keberatan dengan humor dalam dakwah. Nabi sendiri bercanda dengan sahabatnya. Masalahnya baru muncul kalau setelah satu jam ceramah, yang paling diingat jamaah cuma bagian lucunya.
Dakwah punya fungsi tazkiyah, membersihkan dan mengubah manusia. Kadang orang perlu dibuat tersenyum. Kadang ia justru perlu dibuat malu pada dirinya sendiri, diingatkan soal dosa dan tanggung jawab. Dakwah yang selalu berusaha membuat jamaah nyaman berisiko kehilangan fungsi koreksinya, karena salah satu tugas agama memang membuat kita berani melihat diri sendiri dengan jujur.
Ketika Penghiburan Berubah Jadi Pembenaran
Ada pergeseran yang lebih halus dan menurut saya lebih berbahaya. Seseorang punya kebiasaan buruk, lalu terus-menerus mendengar bahwa Allah Maha Pengampun. Secara akidah itu benar. Tapi tanpa disertai penjelasan soal taubat dan tanggung jawab, pendengarnya bisa menyimpulkan "berarti saya baik-baik saja saja", padahal rahmat itu seharusnya mendorongnya kembali, bukan membuat dosa terasa ringan.
Sabar bisa mengalami nasib yang sama. Sabar itu nilai Islam, tapi kalau berubah jadi alasan untuk menerima kezaliman tanpa usaha memperbaikinya, sabar sudah berpindah fungsi. Tawakal bukan berarti pasif, dan memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman terus berjalan.
Di Mana Islam Ketika Orang Butuh Pertolongan Nyata
Ini menurut saya soal yang lebih mendesak. Badan Pusat Statistik mencatat 22,93 juta penduduk Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan pada Maret 2026, setara 8,07 persen populasi. Di perdesaan, angkanya 10,67 persen, jauh di atas perkotaan yang 6,34 persen. Di balik angka itu ada petani yang kehilangan tanahnya, buruh yang dirumahkan, dan orang yang berhadapan dengan hukum tapi tak mampu membayar pengacara.
Pertanyaan dakwah lalu berubah: dari "apa yang harus saya katakan kepada mereka" menjadi "apa yang bisa Islam lakukan bersama mereka".
Al-Ma'un: Ukuran Keberagamaan yang Sering Kita Lewatkan
Al-Qur'an punya kritik yang cukup tajam soal ini, dan letaknya di surah yang sangat pendek, sering dihafal sejak kecil tanpa benar-benar diselami:
"Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong orang lain memberi makan orang miskin." (QS. Al-Ma'un [107]: 1 sampai 3)
Ayat ini tidak menanyakan seberapa sering seseorang bicara soal Allah. Ia menanyakan bagaimana seseorang memperlakukan anak yatim dan orang miskin. Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Muhammadiyah bahkan menjadikan surah ini sebagai fondasi advokasi sumber daya alam, dengan alasan bahwa perampasan tanah dan monopoli sumber daya adalah pelanggaran nyata yang butuh respons keagamaan, bukan sekadar santunan sesekali.
Ormas Islam Sudah Turun Tangan, Tapi Terlihat?
Saya perlu adil di sini. Bukan benar kalau dikatakan ormas Islam tidak pernah melakukan advokasi sosial. Muhammadiyah menyusun fikih agraria lewat Majelis Tarjih, dan lembaganya ikut bersuara soal Rempang dan Wadas, dua kasus yang menurut catatan mereka sendiri membawa ancaman kekerasan fisik bagi pendampingnya.
Pertanyaan yang lebih tepat: seberapa terlihat aktivisme itu bagi orang yang sedang butuh pertolongan? Sebuah lembaga bisa punya program advokasi yang kuat. Tapi kalau masyarakat awam tak pernah mendengarnya, secara sosial yang lebih dulu terlihat hadir adalah kelompok lain, apa pun ideologinya.
Ilmu Sosial Profetik: Bukan Gagasan Baru
Persoalan ini sudah lama dipikirkan di Indonesia. Kuntowijoyo merumuskan Ilmu Sosial Profetik lewat tiga nilai yang saling mengunci: humanisasi, memuliakan manusia; liberasi, membebaskannya dari penindasan; dan transendensi, mengarahkan semuanya kembali kepada Allah.
Ketiganya perlu berjalan bersama. Humanisasi tanpa transendensi kehilangan arah ketuhanan. Liberasi tanpa transendensi bisa berubah jadi perjuangan politik semata. Transendensi tanpa humanisasi dan liberasi berhenti sebagai pengalaman pribadi yang tidak menyentuh siapa pun selain dirinya sendiri.
Ulama Pewaris Nabi, Bukan Sekadar Pembuat Konten
Ekosistem media membuat sebagian dai berubah jadi persona: identik dengan humor, identik dengan tema keluarga, identik dengan motivasi. Algoritme lalu memperkuat pola ini karena platform menyukai konten yang mudah dikenali, dan ada risiko materi dakwah lambat laun menyesuaikan diri dengan apa yang paling gampang dikonsumsi.
Padahal kedudukan ulama lebih dari itu. Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham." (HR. Abu Dawud no. 3641 dan At-Tirmidzi no. 2682)
Warisan itu ilmu, bukan sekadar kemampuan tampil menarik di depan kamera.
Dakwah yang Nyaman untuk yang Sudah Nyaman
Perhatikan tempat dakwah modern biasa berlangsung: hotel, mal, kampus, studio televisi, kajian dengan peserta berpakaian rapi. Semua itu tidak salah. Tapi kalau hampir seluruh ekosistem dakwah berkumpul di sana, pertanyaannya jadi: siapa yang tidak hadir? Buruh yang sedang shift kerja, petani di sawah, pedagang pasar, atau orang yang sedang kehilangan tanahnya, jarang punya waktu dan akses untuk berada di ruang-ruang itu.
Ini bukan tuduhan bahwa dakwah kelas menengah itu salah. Ini soal ke mana perhatian kita paling banyak mengalir, dan siapa yang paling sedikit kebagian.
Islam Perlu Hadir sebagai Jawaban, Bukan Cuma Kritik
Ketika kelompok lain, termasuk kelompok kiri, lebih dulu mendampingi buruh dan petani yang berkonflik, respons kita sebaiknya bukan "mereka membawa ideologi yang salah". Pertanyaan yang lebih berguna: mengapa kita tidak lebih dulu di sana? Kalau kita yakin worldview kita lebih kuat, satu-satunya cara membuktikannya bukan lewat debat, tapi lewat pelayanan yang nyata: bantuan hukum, pendampingan, koperasi, sekolah, rumah sakit.
Penutup
Konten dakwah hari ini melimpah. Ada di masjid, televisi, YouTube, TikTok, podcast, dan buku. Yang sering hilang bukan jumlahnya, tapi sambungannya: bagaimana satu tema terhubung ke tema lain, bagaimana ilmu itu membentuk manusia, dan bagaimana manusia yang terbentuk itu ikut membenahi masyarakat di sekitarnya.
Ukuran keberhasilan dakwah barangkali perlu diperluas. Bukan cuma berapa juta orang menonton, tapi apakah orang yang sedang kesulitan menemukan umat Islam di sampingnya ketika ia mencari pertolongan.
Daftar Pustaka
- Al-Qur'an al-Karim: QS. Al-Ma'un [107]: 1 sampai 3. Terjemahan mengacu pada Kementerian Agama RI.
- Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy'ats. Sunan Abu Dawud, no. 3641.
- At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi, no. 2682.
- Badan Pusat Statistik. "Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2026." Rilis 5 Agustus 2026. liputan6.com, databoks.katadata.co.id
- Kuntowijoyo. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan, 1991.
- Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah. "Al-Ma'un sebagai Pondasi Advokasi SDA: Harus Jangka Panjang dan Terorganisir, Tidak Reaktif atau Karitatif." lhkp.muhammadiyah.or.id
- Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. "Catatan Wadas dalam Fikih Agraria." Suara Muhammadiyah, 6 Mei 2021. web.suaramuhammadiyah.id