Bisakah Akal Membawa Kita kepada Islam?

Kenapa ada sesuatu, bukan tiada apa-apa? Menelusuri argumen kosmologis dari Aristoteles, Al-Ghazali, hingga William Lane Craig, dan menunjukkan batas akal sebelum sampai pada kebutuhan akan wahyu, keadilan akhirat, dan alasan menguji Islam secara serius.

Alam semesta ada, begitu juga kita, materi, ruang, dan waktu. Pertanyaan paling sederhana yang bisa diajukan atas fakta itu hanya satu kata: kenapa. Filsafat menyebut upaya menjawabnya sebagai argumen kosmologis, sebuah cara berpikir yang bergerak dari fakta bahwa dunia ada menuju pertanyaan tentang sebab pertama atau penjelasan terakhirnya. Tradisi ini berkembang sejak Aristoteles dan mengambil bentuk berbeda dalam filsafat Islam, Kristen, dan filsafat modern.

Pertanyaan ini juga layak diajukan seorang Muslim pada dirinya sendiri. Bukan untuk meragukan akidah, tapi untuk menguji apakah keyakinan itu punya alasan yang berdiri sendiri di luar warisan keluarga dan budaya.

Tiga Jalan Buntu Sebelum Sampai ke Tuhan

Ada tiga kemungkinan yang biasa diajukan untuk menjelaskan kenapa alam semesta ada, dan ketiganya bermasalah sebelum sampai pada penjelasan yang memadai.

Kemungkinan pertama, alam menciptakan dirinya sendiri. Agar sesuatu bisa menyebabkan keberadaannya sendiri, sesuatu itu harus sudah ada sebelum ia ada. Ini bukan soal fisika, melainkan kontradiksi logis pada level paling dasar: agar A menciptakan A, A harus ada sebelum A ada.

Kemungkinan kedua, alam muncul dari ketiadaan. Masalahnya terletak pada definisi "ketiadaan" itu sendiri. Ruang kosong bukan ketiadaan. Vakum kuantum pun bukan ketiadaan absolut, karena tetap punya struktur fisik dan berada di dalam ruang-waktu. Filsafat kosmologi menulis hal ini secara eksplisit: keadaan vakum tetap eksis di dalam ruang-waktu dan memiliki berbagai sifat yang tidak trivial. Menjelaskan kemunculan alam dari vakum, dengan begitu, bukan jawaban atas pertanyaan metafisis tentang kenapa ada sesuatu sama sekali, bukan tiada apa-apa (Stanford Encyclopedia of Philosophy, "Philosophy of Cosmology"). Big Bang, dengan kata lain, adalah model tentang bagaimana alam berevolusi sejak fase paling awal, bukan jawaban atas pertanyaan kenapa realitas ada.

Kemungkinan ketiga, alam disebabkan sesuatu yang juga punya sebab, dan sesuatu itu disebabkan hal lain lagi, membentuk rantai tak berhingga. Rantai ini tidak menyelesaikan persoalan, hanya memindahkannya: dari "kenapa A ada" menjadi "kenapa B ada", lalu "kenapa C ada", tanpa pernah berhenti pada jawaban.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

"Apakah mereka tercipta tanpa asal usul yang jelas, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?" (QS. At-Tur [52]: 35)

Ayat ini menyandingkan tepat dua jalan buntu di atas, tanpa asal usul atau menciptakan diri sendiri, empat belas abad sebelum filsafat Barat merumuskannya dalam bahasa akademik. Al-Ghazali kemudian menyusun argumen ini secara sistematis pada abad ke-11: segala sesuatu yang mulai ada memerlukan sebab bagi permulaannya. Delapan abad kemudian, filsuf William Lane Craig menghidupkan kembali argumen ini dalam filsafat kontemporer dengan nama argumen kosmologis kalam, lengkap dengan pembelaan atas premis-premisnya lewat argumen a priori maupun a posteriori (Stanford Encyclopedia of Philosophy, "Cosmological Argument").

Sebab yang Tidak Bergantung pada Apa Pun

Kalau tiga jalan di atas buntu, satu-satunya jalan tersisa adalah menerima bahwa ada sesuatu yang keberadaannya tidak bergantung pada penjelasan eksternal, sesuatu yang filsafat sebut sebagai realitas niscaya. Sesuatu yang lain, termasuk kita, bersifat kontingen: ada, tapi bisa saja tidak ada. Kalau seluruh realitas yang kita amati bersifat kontingen, keberadaannya hanya terjelaskan lengkap oleh sesuatu yang tidak kontingen (Stanford Encyclopedia of Philosophy, "Cosmological Argument").

Titik ini penting, tapi belum menyelesaikan semuanya. Dari "ada realitas niscaya" ke "Allah pasti ada" masih ada jarak: apakah realitas niscaya itu personal atau impersonal, berkehendak atau tidak, tunggal atau banyak, dan mengetahui manusia atau tidak? Pertanyaan tentang keberadaan Tuhan dan pertanyaan tentang agama adalah dua tahap berbeda, dan mencampur keduanya membuat argumen lebih lemah, bukan lebih kuat.

Tuhan Ada, Lalu Apa

Kalaupun akal berhasil sampai pada kesimpulan bahwa ada penyebab pertama yang berkehendak, akal tidak otomatis tahu apa yang dikehendaki penyebab itu dari manusia. Cara menyembah, tujuan hidup, aturan pernikahan, tata cara muamalah, dan nasib setelah kematian adalah pertanyaan yang tidak terjawab hanya dengan menyimpulkan bahwa Tuhan ada.

Konsep wahyu masuk pada titik ini. Filsafat agama memahaminya sebagai cara Tuhan yang menciptakan makhluk berakal menjangkau mereka, memberi tahu lebih banyak tentang sifat dan kehendak-Nya daripada yang bisa diketahui manusia lewat pengamatan biasa terhadap alam (Stanford Encyclopedia of Philosophy, "Divine Revelation"). Pertanyaannya bergeser: kalau Tuhan ada, apakah Ia pernah menyampaikan petunjuk semacam itu kepada manusia?

Dunia yang Tidak Adil dan Pertanyaan Tentang Akhirat

Ada orang jujur yang hidupnya berakhir dalam penderitaan, dan ada pelaku kejahatan besar yang meninggal dengan tenang tanpa pernah menanggung akibat perbuatannya. Kalau kehidupan dunia adalah keseluruhan realitas moral manusia, sebagian ketidakadilan itu tidak pernah dikoreksi.

Filsafat agama mengakui persoalan ini secara langsung. Tanpa kehidupan setelah mati, tanpa ruang bagi penderitaan dunia untuk diringankan dan ketidakadilannya diperbaiki, masalah kejahatan menjadi mustahil dipecahkan secara filosofis. Ketidakadilan dunia tidak mendapat kata akhir kalau korban tetap jadi korban selamanya dan pelaku kejahatan lolos begitu saja (Stanford Encyclopedia of Philosophy, "Afterlife").

Argumen ini tidak membuktikan akhirat secara deduktif. Yang bisa dikatakan secara jujur, konsep akhirat menjawab problem ketidaksempurnaan keadilan dunia yang tidak terjawab tanpa dia.

Kalau Wahyu Mungkin, Agama Mana yang Mengklaimnya

Sampai di sini, percaya Tuhan ada belum menyelesaikan persoalan, begitu juga percaya akhirat ada. Agama-agama besar membuat klaim yang saling bertentangan tentang sifat Tuhan, jalan keselamatan, dan nasib manusia setelah kematian. Filsafat agama menyebutnya persoalan keragaman agama: individu yang punya akses informasi setara dan sama-sama mencari kebenaran ternyata memegang keyakinan yang jauh berbeda, bahkan saling bertentangan (Stanford Encyclopedia of Philosophy, "Religious Diversity (Pluralism)").

Menguji klaim agama-agama itu membutuhkan kriteria yang disusun sebelum melihat hasilnya, bukan sesudah. Kriteria itu meliputi konsistensi konsep Tuhan, konsep manusia dan tujuan hidupnya, penjelasan atas kejahatan dan penderitaan, kejelasan konsep akhirat, kejelasan klaim wahyu dan cara transmisinya, konsistensi ajaran secara internal, kesesuaian klaim faktualnya dengan realitas yang bisa diperiksa, dan cakupan worldview-nya atas seluruh sisi kehidupan, bukan sekadar ritual.

Mengapa Islam Layak Diuji Serius

Islam memulai dari satu klaim: Allah itu esa. Dari klaim itu, seluruh realitas dijelaskan lewat satu rangkaian hubungan, Allah sebagai pencipta, alam sebagai ciptaan, manusia sebagai hamba, wahyu sebagai petunjuk, dunia sebagai tempat ujian, akhirat sebagai tempat pertanggungjawaban. Struktur ini relatif sederhana dibanding banyak sistem keagamaan lain, dan menjelaskan kenapa syariat Islam menjangkau ibadah, keluarga, ekonomi, dan kehidupan sosial sekaligus tanpa memisahkannya jadi wilayah yang berdiri sendiri-sendiri: semuanya bersumber dari Tuhan yang sama.

Tradisi Islam juga sudah lama mengolah pertanyaan tentang sebab pertama secara filosofis, bukan sekadar dogmatis. Argumen al-Ghazali di atas menunjukkan itu, dan jejaknya masih dipakai filsuf agama masa kini untuk membela keberadaan Tuhan lewat jalur rasional, bukan sekadar otoritas kitab suci.

Ujian Paling Berat: Muhammad dan Al-Qur'an

Kelengkapan sebuah sistem keagamaan tidak sama dengan kebenarannya. Agama yang lengkap tapi salah tetap salah. Pertanyaan yang lebih tepat, apakah kelengkapan Islam adalah konsekuensi dari worldview yang koheren dan klaim wahyu yang bisa dipertanggungjawabkan.

Untuk menjawabnya, argumen berpindah dari wilayah filsafat abstrak ke wilayah sejarah yang bisa diperiksa. Siapa Muhammad secara historis, apa yang ia klaim, bagaimana komunitas pertama meresponsnya. Bagaimana Al-Qur'an ditransmisikan, bagaimana sejarah kodifikasinya, apakah isinya konsisten secara internal soal konsep Tuhan, manusia, moral, dan akhirat. Kalau tahap sebelumnya membawa akal sampai pada kesimpulan bahwa wahyu masuk akal untuk dipertimbangkan, tahap ini menguji apakah Al-Qur'an dan Muhammad memenuhi kriteria itu berdasarkan bukti, bukan berdasarkan warisan keyakinan semata.

Penutup

Akal tidak perlu mampu menghasilkan seluruh ajaran Islam dari dirinya sendiri agar punya peran penting dalam menemukan Islam. Akal membawa manusia sampai pada pertanyaan tentang keberadaan Tuhan, keterbatasan keadilan dunia, dan kebutuhan akan wahyu. Setelah itu, akal kembali bekerja untuk menguji klaim agama yang mengaku berasal dari Tuhan tersebut.

Jalurnya bukan "saya Muslim, maka Islam benar". Jalurnya lebih panjang: ada realitas, realitas itu butuh penjelasan, penjelasan itu berujung pada sesuatu yang tidak bergantung pada apa pun, sesuatu itu memungkinkan adanya wahyu, ketidakadilan dunia memberi alasan mempertimbangkan akhirat, dan kalau wahyu memang mungkin, pertanyaan berikutnya adalah agama mana yang mengklaimnya secara paling konsisten dan bisa diperiksa.

Akal bukan pengganti wahyu. Akal adalah alat untuk mengetahui kapan wahyu layak dipercaya, lalu wahyu menjelaskan apa yang tidak bisa diketahui akal sendirian.

Daftar Pustaka